Ruangan itu bernama hati. Menjadi inti bagi setiap jasad diri. Ruang utama dari sebentuk raga, manusia.
Sebuah ruang kendali. Tutur kata, tingkah laku, dibawah perintahnya.
Timbangan keadilan berada pada meja kejujuran. Baik-buruk, benar-salah, dalam vonisnya.
Cermin diri menggantung pada dinding citra. Pancaran aura raga bergantung hitam-putihnya.
Semestinya setiap jiwa memengang kuncinya. Semestinya setiap kepala memiliki kuasa. Sayangnya mereka sering teperdaya. Menyerahkan hak milik hati pada jiwa lainnya. Mengatasnamakan ketidaksengajaan, jatuh hati.
Seringkali pintu hati terbuka terlalu lebar. Daya pikat jiwa raga lain yang melenakan. Semestinya jiwa lain hanya singgah di serambi, bukan tinggal dan mengambil alih tampuk kuasa hati. Jiwa yang berbeda, bahasa yang berbeda. Hati hilang kendali. Baik-buruk, benar-salah, tutur kata, tingkah laku, menyimpang di luar orbit rotasi. Meski terkadang jiwa lain itu pun tak sadar, karena mandat secara sepihak oleh pemilik hati yang membuka hati terlalu lebar.
Bahkan jika kelak tiba waktunya ditemukan jiwa sehati. Dua jiwa yang bersumpah setia hingga tutup usia. Mereka menyatukan yang dua menjadi satu hati. Mereka berbagi hati. Bukan mengambil alih kendali.
Pada satu raga, akan selalu ada satu jiwa yang bertanggung jawab atas ruang hatinya. Bukan jiwa yang lainnya.